Saat orang mendengar kata "Papua" apa yang kalian bayangkan. Pasti kalian sudah ngeri mendengar kata Papua. Tempat yang terpencil dengan kebudayaan primitif. Justru kalian salah menilai Papua. Kita bangsa sendiri saja salah menilai itu. sangat tidak adil, penilain yang subyektif. Mereka hanya tahu Papua dari televisi saja yang menayangkan tentang hal-hal primitif saja. Ini hanya fakta, justru Papua memiliki ratusan bandara. Bayangkan Dengan Pulau Jawa yang hanya memiliki "belasan" bandara saja. Karena memang saat ini moda transportasi yang menghubungkan antar kabupaten bahkan kecamatan di Papua mayoritas adalah Moda Transportasi Udara. Bayangkan untuk menuju kecamatan yang hanya berjarak beberapa kilometer saja harus menaiki pesawat udara. Bagaimana apa pandangan anda tentang Papua masih seperti Papua yang primitif.
Terminal Bandara Moses Kilangin Timika
Perjalanan saya menuju Papua pada tanggal 7 Januari 2010 untuk bertugas sebagai Instruktur di bidang penerbangan di Balai Diklat Penerbangan Jayapura. Pesawat yang saya tumpangi harus transit di Bandara Moses Kilangin Timika. Saya menyempatkan diri untuk turun dari pesawat sejenak untuk menghirup udara Papua untuk pertama kali. Sebenarnya ada larangan untuk tidak turun dari pesawat, tetapi saya tidak menghiraukan peringatan yang disampaikan oleh Pramugari.
Di atas pesawat saya disuguhi pemandangan alam yang sangat menajubkan. Sungguh kita harus mensyukuri apa yang diberikan oleh Tuhan kepada umat manusia. Sayangnya saya tidak bisa mengambil gambar dari atas pesawat, karena sesuai dengan standar keselamatan penerbangan yang tidak memperbolehkan penggunaan alat elektronik di saat berlangsungnya penerbangan.
Terminal Bandara Sentani Jayapura
Sebelum memasuki daerah Bandara Sentani, Saya kembali disuguhkan pemandangan yang indah. Pesawat melintas di atas Danau Sentani yang luas sebelum akhirnya pesawat yang saya tumpangi mendarat/landing di Bandara Sentani. Tepat 30 menit perjalanan dari Timika menuju Sentani. Begitu turun dari pesawat, hanya satu kata yang bisa terucap dari bibir saya yaitu "wow". Sentuhan modern dan Tradisional yang menjadi satu dari gaya arsitektur bandara Sentani. Kita bisa melihat atap dari terminal Bandara Sentani dibuat seperti rumah adat di Papua. Lalu Hiasan beberapa patung kayu yang ada di sudut bandara cukup membuat saya takjub.
Ini adalah hari baru buat saya. Sebuah tugas negara menjadikan saya harus menginjakkan tanah ditempat ini. Perlahan-lahan saya mulai beradaptasi dengan lingkungan yang ada di sini. Dan mulai menghilangkan anggapan negatif saya tentang Papua selama ini. Jadi apakah kalian masih mengangap Papua sebagai tempat primitif??
Selengkapnya...